Posted on Leave a comment

Mengapa Kita Selalu Ingin Mengubah Orang Lain?

Ada yang samaan kayak gini ngga :

Kalau anak kita susah diatur, kita ingin anaknya berubah.
Kalau pasangan melakukan sesuatu yang tidak kita suka, kita berharap pasangan yang berubah.
Kalau anggota tim tidak bekerja sesuai harapan, kita mulai mencari cara agar tim berubah.

Rasanya hampir semua masalah punya satu solusi yang sama.
“Coba dia berubah.”

Pernah ngga kepikiran :
“Kenapa ya, hampir semua perubahan yang kita inginkan selalu dimulai dari orang lain?”

Padahal ada satu orang yang paling dekat dengan kita, yang justru paling jarang kita pelajari.
Diri kita sendiri.
Mungkin karena mengubah orang lain terasa lebih mudah daripada mengakui bahwa cara kita memandang sesuatu juga bisa keliru.
Mungkin juga karena lebih nyaman berkata, “Dia memang begitu.” daripada bertanya, “Kenapa reaksiku seperti ini?”

Dalam satu kejadian yang pernah dialami, ei pernah menyadari sesuatu :
Dua orang bisa menghadapi kejadian yang sama, tetapi memberikan respons yang sangat berbeda.
Ada yang marah.
Ada yang tertawa.
Ada yang biasa saja.

Nah, kalau penyebabnya sama, kenapa reaksinya bisa berbeda?
Jawabannya mungkin bukan pada kejadiannya.
Tetapi pada orang yang mengalaminya.

Karena setiap dari kita melihat dunia melalui pengalaman, nilai hidup, luka, harapan, dan keyakinan yang berbeda.
Itulah mengapa self awareness menjadi begitu penting.

Bukan supaya kita sibuk menganalisis diri sendiri setiap saat.
Tetapi supaya kita mulai memahami bahwa tidak semua hal yang kita rasakan berasal dari orang lain.
Karena bisa jadi, sumbernya ada di dalam diri kita sendiri.

Ketika pasangan berbicara dengan nada tertentu, yang bikin terluka mungkin bukan karena nada bicaranya.
Tetapi karena kita memiliki pengalaman lama yang belum selesai.

Ketika anak tidak menuruti perkataan kita, yang muncul mungkin bukan sekadar rasa kesal.
Bisa jadi ada kebutuhan kita untuk merasa dihargai atau didengarkan.

Ketika anggota tim mengkritik ide kita, yang terasa terganggu mungkin bukan kritiknya.
Melainkan ego kita.

Semakin kita mengenal diri sendiri, semakin kita menyadari bahwa tidak semua konflik harus diselesaikan dengan mengubah orang lain.
Kadang, yang perlu berubah adalah cara kita memahami situasi.
Cara kita merespons.
Atau cara kita memaknai sebuah kejadian.

Dan anehnya…

Ketika kita mulai berubah, sering kali hubungan dengan orang lain ikut berubah.
Bukan karena mereka berubah.
Tetapi karena kita tidak lagi melihat mereka dengan cara yang sama.

Mungkin itulah mengapa perjalanan mengenal diri sendiri tidak pernah benar-benar selesai.
Karena setiap fase kehidupan akan memperlihatkan sisi diri kita yang baru.
Dan setiap hubungan yang kita jalani akan menjadi cermin yang membantu kita mengenal diri sedikit lebih dalam.

Ei percaya, kita tidak bisa memahami orang lain lebih dalam daripada kita memahami diri sendiri.
Jadi, mungkin pertanyaannya bukan lagi,
“Bagaimana caranya mengubah orang lain?”
Melainkan,
“Apa yang sedang hidup di dalam diriku, sampai aku begitu ingin orang lain berubah?”


Ei yakin banget tidak ada satu pun yang terjadi di dunia ini secara kebetulan. Setiap pertemuan, setiap pengalaman, bahkan setiap momen yang membuat kita berhenti sejenak, selalu punya makna dalam rencana-Nya.

Jadi, kalau tulisan ini membuatmu berhenti sejenak, bisa jadi ada sesuatu yang sedang ingin kamu pahami lebih dalam.

Kalau kamu ingin ditemani dalam proses itu, Ei selalu membuka ruang aman untuk bercerita, berefleksi, dan bertumbuh bersama 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *