Posted on Leave a comment

Adil itu tidak selalu sama

Banyak orang tua berusaha bersikap adil kepada semua anaknya. Mereka memberikan aturan yang sama, nasihat yang sama, hukuman yang sama, bahkan cara mendidik yang sama.
Sayangnya, adil tidak selalu berarti sama. Karena setiap anak datang dengan kebutuhan, cara belajar, dan cara bertumbuh yang berbeda.

Sering kali kita merasa telah berlaku adil ketika semua anak diperlakukan dengan cara yang sama. Padahal, kesamaan perlakuan belum tentu menghadirkan rasa dipahami. Yang satu mungkin merasa didukung, sementara yang lain justru merasa tidak pernah dimengerti.

Bayangkan jika kita memiliki tiga tanaman yang berbeda: anggrek, kaktus, dan bunga matahari. Ketiganya sama-sama hidup, tetapi membutuhkan cara merawat yang berbeda. Menyiram semuanya dengan jumlah air yang sama setiap hari mungkin terdengar adil, tetapi belum tentu membuat semuanya bertumbuh dengan baik.
Ada yang layu karena terlalu banyak air, ada yang justru kekurangan.

Anak pun demikian.

Sering kali kita mengira tugas orang tua adalah mengubah anak agar sesuai dengan cara kita. Padahal mungkin tugas terbesar orang tua adalah mengubah cara kita, agar sesuai dengan kebutuhan anak.

Ada anak yang tumbuh ketika diberi kepercayaan.
Ada yang membutuhkan kata-kata penyemangat.
Ada yang belajar dari pengalaman. Ada pula yang baru berani melangkah setelah merasa aman.
Ada anak yang mudah menerima arahan secara langsung, sementara yang lain membutuhkan penjelasan agar memahami alasan di balik sebuah aturan.

Ketika semua anak diperlakukan dengan pendekatan yang sama, kita tanpa sadar berharap mereka merespons dengan cara yang sama pula. Saat harapan itu tidak terjadi, kita mulai memberi label.

“Anak ini keras kepala.”

“Anak ini pembangkang.”

“Anak ini terlalu sensitif.”

Padahal, bisa jadi yang sedang kita lihat bukanlah sifat anak, melainkan ketidaksesuaian antara siapa anak itu dengan cara kita mendampinginya.

Menjadi orang tua bukan berarti menemukan satu metode yang ampuh untuk semua anak. Menjadi orang tua adalah perjalanan untuk terus belajar mengenali siapa yang sedang kita dampingi. Apa yang memotivasinya, apa yang membuatnya merasa dicintai, bagaimana ia belajar, bagaimana ia menghadapi tantangan, dan bagaimana ia memahami dunia.

Itulah mengapa membandingkan kakak dan adik sering kali tidak pernah menghasilkan apa-apa selain luka. Karena mereka memang tidak diciptakan untuk menjadi sama.

Bersikap adil bukan berarti memberikan perlakuan yang identik kepada setiap anak.

Bersikap adil adalah berusaha memahami kebutuhan masing-masing anak, lalu menyesuaikan cara kita mendampingi mereka agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh menjadi versi terbaik dirinya.

Mungkin, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah, “Mengapa anak saya berbeda?”

Tetapi,

“Sudahkah saya mengenali siapa sebenarnya anak yang sedang saya besarkan?”


Kalau tulisan ini bikin kamu berhenti sejenak dan bertanya tentang hubunganmu dengan anak, mungkin kamu ngga butuh lebih banyak nasihat. Bisa jadi kamu hanya butuh ruang untuk melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Dan … Ei buka sesi coaching kalau kamu perlu ruang itu 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *