Ei pernah berpikir…
Bagaimana kalau semua ini Ei temukan dua puluh tahun yang lalu?
Mungkin Ei akan mengambil keputusan yang berbeda.
Mungkin Ei akan memilih karier yang berbeda.
Mungkin Ei akan membangun hubungan dengan cara yang berbeda.
Mungkin…
Lalu Ei tersenyum sendiri.
Karena hidup memang selalu membuat kita merasa ada waktu yang “lebih ideal”.
Seolah-olah segala sesuatu akan lebih baik kalau kita mengetahuinya lebih cepat.
Padahal, siapa yang bisa memastikan?

Ei justru percaya, kesadaran diri datang tepat ketika kita siap menerimanya.
Ada yang mulai mengenal dirinya di usia 20 tahun.
Ada yang baru mulai di usia 40.
Ada juga yang baru benar-benar memahami dirinya setelah anak-anaknya dewasa, setelah kariernya mapan, atau setelah melewati begitu banyak pengalaman hidup.
Dan semuanya tetap berharga.
Sering kali kita menganggap self awareness hanya penting untuk anak muda yang sedang memilih jurusan kuliah, mencari pekerjaan, atau menentukan arah hidup.
Padahal, mengenal diri sendiri tidak pernah kehilangan manfaatnya.
Justru semakin banyak pengalaman hidup yang kita miliki, semakin banyak pula potongan-potongan diri yang bisa kita pahami.
Mengenal diri sendiri di usia 20 tahun mungkin membantu kita memilih jalan.
Mengenal diri sendiri di usia 40 atau 50 tahun membantu kita memahami perjalanan yang sudah kita lalui.
Dan memahami perjalanan itu sering kali membawa satu hadiah yang tidak kalah berharga.
Damai.
Damai karena mulai memahami mengapa kita mengambil keputusan tertentu.
Damai karena mulai menerima bahwa kita tidak harus menjadi seperti orang lain.
Damai karena akhirnya mengerti bahwa setiap orang memang memiliki ritme hidupnya sendiri.
Self awareness bukan tentang menyesali masa lalu.
Self awareness membantu kita melihat masa lalu dengan cara yang lebih penuh pengertian.
Bukan untuk menyalahkan diri sendiri.
Tetapi untuk memahami diri sendiri.
Ei sering mendengar orang berkata,
“Kalau saja aku tahu ini dari dulu…”
Ei mengerti perasaan itu.
Tetapi Ei lebih suka mengganti kalimatnya menjadi,
“Syukurlah Ei mengetahuinya sekarang.”
Karena “sekarang” selalu lebih baik daripada “tidak pernah.”
Selama kita masih diberi kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan memperbaiki cara kita menjalani hidup, tidak ada kata terlambat.
Masih ada hubungan yang bisa diperbaiki.
Masih ada luka yang bisa dipahami.
Masih ada pilihan yang bisa diambil dengan lebih sadar.
Masih ada hari esok yang bisa dijalani dengan versi diri yang lebih mengenal siapa dirinya.
Ei percaya, mengenal diri sendiri bukan perlombaan.
Tidak ada medali untuk siapa yang paling cepat mengenal dirinya.
Setiap orang memiliki waktunya sendiri.
Dan mungkin…
Kalau hari ini kamu sedang mulai mengenal dirimu lebih dalam, bisa jadi memang hari inilah waktu yang Tuhan siapkan untukmu.
Ei percaya tidak ada satu pun yang terjadi di dunia ini secara kebetulan. Setiap pertemuan, setiap pengalaman, bahkan setiap momen yang membuat kita berhenti sejenak, selalu punya makna dalam rencana-Nya.
Jadi, kalau tulisan ini membuatmu berhenti sejenak, bisa jadi ada sesuatu yang sedang ingin kamu pahami lebih dalam.
Kalau kamu ingin ditemani dalam proses itu, Ei selalu membuka ruang untuk bercerita, berefleksi, dan bertumbuh bersama. 🧡
