Posted on Leave a comment

Kapan Terakhir Kali Kamu Mengenal Pasanganmu?

Waktu mau menikah, banyak pasangan yang semangat ikut kelas pranikah. Cari tahu tentang love language, belajar komunikasi, ikut tes kepribadian, bahkan ada yang melakukan berbagai macam asesmen untuk lebih mengenal diri sendiri dan calon pasangan.

Bagus? Bagus banget.

Tapi Ei jadi kepikiran…

Kenapa semangat untuk saling mengenal itu sering kali berhenti setelah menikah?
Seolah-olah setelah ijab kabul atau pemberkatan selesai, kita otomatis sudah mengenal pasangan luar dalam.
Padahal… memangnya manusia berhenti bertumbuh?

Ei saja merasa diri Ei yang sekarang sudah jauh berbeda dibanding lima atau sepuluh tahun yang lalu.
Cara berpikir berubah,
Prioritas berubah,
Cara memandang hidup pun ikut berubah.


Rasanya ngga adil kan ya kalau kita berharap pasangan kita tetap menjadi orang yang sama seperti saat pertama kali menikah.

Begitu juga sebaliknya.

Menurut Ei, menikah bukanlah akhir dari proses saling mengenal.
Justru sebaliknya.
Menikah adalah awal dari perjalanan untuk terus mengenal.

Mengenal diri sendiri.
Mengenal pasangan.
Lalu mengenal kembali… karena kita berdua sama-sama terus bertumbuh.

Kalau pernikahan sering disebut sebagai ibadah seumur hidup, bukankah proses saling mengenalnya juga seharusnya berlangsung seumur hidup?
Karena jujur saja…
Capek ngga sih, kalau harus menebak terus?

“Kenapa sekarang dia gampang tersinggung?”

“Dulu dia nggak seperti ini.”

“Sebenarnya maunya apa sih?”

“Kenapa ya dia berubah?”

Sering kali kita mengira pasangan kita berubah.
Padahal bisa jadi, kita yang berhenti mengenalnya.

Kalau mengenal diri sendiri membantu kita memahami mengapa kita bereaksi dengan cara tertentu, apa yang sebenarnya kita butuhkan, dan apa yang tanpa sadar kita harapkan dari pasangan.

Sedangkan mengenal pasangan membuat kita sadar bahwa cara kita memandang dunia belum tentu sama dengan cara pasangan memandangnya. Bahwa cara kita mengekspresikan kasih sayang belum tentu sama. Bahwa cara kita menghadapi masalah pun bisa sangat berbeda.

Dan itu bukan masalah.
Justru ketika kita memahami perbedaan itu, kita berhenti saling menebak dan mulai saling memahami.

Ei percaya, banyak konflik dalam rumah tangga bukan muncul karena sudah ngga ada cinta.
Melainkan karena kita terlalu banyak berasumsi.
Padahal, asumsi tidak pernah bisa menggantikan pemahaman.

Pada akhirnya, membangun rumah tangga bukan tentang menemukan pasangan yang sempurna.
Melainkan tentang dua orang yang tidak pernah berhenti belajar mengenal dirinya sendiri, sekaligus terus belajar mengenal orang yang memilih berjalan bersama mereka.
Karena perjalanan seumur hidup akan terasa jauh lebih ringan ketika kita tidak hanya berjalan berdampingan, tetapi juga benar-benar saling memahami.


Ei yakin banget tidak ada satu pun yang terjadi di dunia ini secara kebetulan. Setiap pertemuan, setiap pengalaman, bahkan setiap momen yang membuat kita berhenti sejenak, selalu punya makna dalam rencana-Nya.

Jadi, kalau tulisan ini membuatmu berhenti sejenak, bisa jadi ada sesuatu yang sedang ingin kamu pahami lebih dalam. Kalau kamu ingin ditemani dalam proses itu, Ei selalu membuka ruang untuk bercerita, berefleksi, dan bertumbuh bersama. Dan kalau perjalanan itu terasa lebih bermakna jika dijalani berdua, pasanganmu pun selalu dipersilakan untuk ikut berjalan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *